Senin, 09 Mei 2011

BALI


BALI
Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.
Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.[3] Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.[4] Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.[rujukan?]
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (12931500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.
Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[5]
Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.
Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam teknik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya gamelan jegog, gamelan gong gede, gamelan gambang, gamelan selunding dan gamelan Semar Pegulingan. Ada pula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.
Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling memengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.


Tari
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.[7]
Pakar seni tari Bali I Made Bandem[8] pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Penari belia sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh Suasthi Bandem.
Tarian wali
Sang Hyang Dedari
Sang Hyang Jaran
 Tari Rejang
 Tari Baris
Tarian balih-balihan
Tari Legong
Arja
Joged Bumbung
Drama Gong
Barong
Tari Pendet
Tari Kecak
Calon Arang



Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.
Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:
Udeng (ikat kepala)
Kain kampuh
Umpal (selendang pengikat)
 Kain wastra (kemben)
Sabuk
Keris
Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.
Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
Gelung (sanggul)
Sesenteng (kemben songket)
Kain wastra
Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
Selendang songket bahu ke bawah
Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.
Makanan utama
 Ayam betutu
Babi guling
Bandot
Be Kokak Mekuah
Be Pasih mesambel matah
Bebek betutu
Berengkes
Grangasem
Jejeruk
Jukut Urab
Komoh
 Lawar
Nasi Bubuh
Nasi Tepeng
Senjata
Keris
Tombak
Tiuk
Taji
Kandik
Caluk
Arit
Udud
Gelewang
Trisula
Panah
Penampad
Garot
Tulud
Kis-Kis
Anggapan
Berang
Rumah Adat
Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)
Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.
Pahlawan Nasional
Untung Suropati
I Gusti Ngurah Rai
I Gusti Ketut Jelantik

Daftar Pustaka:



KEBUDAYAAN INDIA


KEBUDAYAAN INDIA

Tinjauan Terhadap Inti Ajaran Veda, Hindu, Budha, Jainisme dan
Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial-Budaya Masyarakat India Kuno
Periodisasi Agama di India Kuno .
Dalam perjalanan sejarah India kuno beberapa kali dalam kurun waktu
yang berbeda terjadi perubahan maupun perkembangan dalam bidang keagamaan maupun filsafat, hal tersebut terjadi sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri. Adanya wahyu maupun adanya sebuah gagasan atau pemikiran dari satu tokoh atau kelompok menjadi satu dari sekian penyebab terjadinya perubahan maupun perkembangan dalam suatu masyarakat, dalam hal ini termasuk juga perkembangan dan perubahan dalam bidang agama maupun filsafat. Di India sendiri terjadi perkembangan maupun perubahan dalam bidang agama dan filsafat dalam beberapa kurun waktu. Berikut adalah penjelasan yang akan dimulai dari zaman Weda hingga munculnya Jainisme dan Budha.
Zaman Weda (1500-800 SM)
Dalam peradaban India, Lembah Sungai Indus merupakan tempat di mana kebudayaan dan kepercayaan India berkembang. Ketika bangsa Arya datang ke daerah tersebut dan menetap di sana, bangsa Arya mempunyai kepercayaan terhadap para dewa yang diantaranya adalah penyembahan terhadap Dewa Langit. Kata Veda berasal dari kata Vid yang artinya adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. orang-oarang Hindu menganggap Veda sebagai yang abadi diturunkan oleh para Rsi (Suud, 1988: 46). Reg Veda merupakan yang tertua,




 Zaman Weda Baru
Pada zaman ini muncul Sama Veda yang meupakan kelanjutan dari Reg
Veda sebagai wahyu dari Tuhan, dimana syair nyanyian dari Sama Veda ini digunakan dalam upacara Yajna (korban suci). Setelah itu muncul juga Yayyur Veda, pada masa ini upacara Yajna menjadi sangat penting sebab Yajna ini
dianggap sebagai satu-satunya jalan menujumoksa. Dalam upacara yang dilakukan mantra dan nyanyian dari Reg Veda, Sama Veda, maupun Yayyur Veda harus dilakukan oleh Brahmana dan pelaksanaannya harus sesuai ajaran Yayyur Veda, maka peran Brahmana mulai dianggap penting. Pada masa selanjutnya bangsa Arya juga menemukan mantra-mantra gaib untuk melawan sihir atau penyakit serta tata cara pemakaman jenazah yang dikenal sebagai zaman Atharwa Veda.
Zaman Brahmana (800-300 SM)
Pada masa ini bangsa Arya sudah mulai menjelajah dan menyebar ke
wilayah timur. Pada masa ini juga pengkodifikasian kitab-kitab suci Veda sudah
selesai, sehingga pada masa ini para Rsi pun sudah tidak lagi mendapatkan wahyu dalam bentuk lagu sehingga tidak lagi terdapat wahyu lagu yang diturunkan kepada para Rsi, maka para Rsi pada masa ini mulai menafsikan isi dari Catur Weda tersebut yang kemudian dari tafsiran kitab-kitab Veda itu menghasilkan beberapa kitab yang disebut kitab Brahmana. Masa ini juga warna diartikan sebagai kasta dan sistem kasta ini mulai berkembang dalam kepercayaan yang dianut, aturan kasata menjadi ketat dan kini para bangsawan mulai menguasai tanah-tanah yang ada untuk memperkuat posisinya dalam tingkatan kasta tertentu.
Zaman Kejayaan Hindu ( 800-600 SM)
Spirit keagamaan mengalami perubahan, tidak ada lagi upacara2 kecil,
melainkan upacara Yajna yang besar dan rumit, sehingga golongan Brahmana
memiliki kekuasaan dan mendapat perlakuan istimewa. Upacara yang dilakukan
meliputi: mulai dari manusia dalam kandungan sampai meninggal, bahkan sampai Yajna yang berhubungan dengan roh yang telah meninggal. Upacara yang terbesar adalah Aswamedhayajna, korban kuda, memakai ratusan Brahmana, serta mengorbankan binatang dalam jumlah banyak.
Pada zaman Aranyaka muncul ajaran bertapa atau meditasi dalam usaha
menguak misteri semesta. Pada zaman Upanisad muncul ajaran yang berdasarkan filsafat dan logika. Ajaran dituangkan dalam kitab-kitab Upanisad. Ada beberapa konsepsi penting yang ditemukan para Rsi yang membaca kitab-kitab suci di hutan:
Alam semesta diciptakan dari Yajna dan dipelihara dengan Yajna.
Konsep Brahman – Atman, Samsara (punarbhawa).
Karma, samsara (punarbhawa), dan moksa.

 Zaman Kemunduran Hindu (600-300 SM)
Pada zaman ini muncul protes dan perlawanan yang menentang ajaran
Brahmana, yang mengajarkan upacara Yajna, berbagai ritual serta pembunuhan
bermacam-macam binatang dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan biaya mahal. Gerakan perlawanan ini dipimpin oleh para penganut Buddha, Jaina, Carwaka, dll, yang menolak wewenang dan otoritas kaum Brahmana. Mereka menentang ritual- ritual yang bersumber pada Weda. Sebaliknya mengajarkan, mengagungkan etika tapa-brata, dan penebusan dosa dengan disiplin ketat untuk mencapai moksa (bebas dari kelahiran dan kematian). Agama Buddha begitu cepat meluas, ke seluruh masyarakat yang beragama Brahmana. Yang masih taat agama Hindu kebanyakan kaum Brahmana.

. Inti Ajaran Hindu
Hinduisme adalah bentuk keyakinan hidup yang bermula dari ajaran Veda, yang karena perkembangan sejarah para pemeluknya telah mengalami perubahan sebagai perpaduan antara Brahmanisme yang berdasarkan Veda dengan Budhisme maupun Jainisme (Abu Su’ud, 1988: 105). Berikut adalah inti ajaran Hindu .
1. Agama Hindu percaya pada sistem keTuhanan atau Dewa.
2. Menekankan pemujaan pada tiga Dewa, yaitu Dewa Brahma,
Dewa Wisnu dan Siwa atau yang dikenal dengan Trimurti (tiga bentuk). Dimana Dewa Brahma sebagai kepala karena kedudukannya sebagai dewa pencipta jagad raya, sementara Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara, sedangkan Dewa Siwa menjadi dewa perusak Jagad raya.
3. Terjadinya pergeseran dalam pemahaman orang mengenai para Dewa. Banyak dewa yang pada masa veda dianggap penting dan perlu dipuja kemudian dalam ajaran Hindu kedudukannya bergeser ke bawah atau dianggap kurang penting. Bagi agama hindu, dewa bukan lagi gejala alam seperti dewa matahari, bulan, api ataupun angin namun dewa digambarkan sebagai manusia (antropomorfis).
4. Dalam agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut
denganPancas r adha.Pancas r adha merupakan keyakinan dasar umat Hindu.
Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1). Widhi Tattwa – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala
aspeknya. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya
kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha
Esa.
2). Atma Tattwa – percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk. Dalam
ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan
percikan yang berasal dari Tuhan dan disebutAtm an.
3). Karmaphala Tattwa – percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti
membuahkan hasil, baik atau buruk.
4). Punarbhawa Tattwa – percaya dengan adanya proses kelahiran kembali
(reinkarnasi). Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus
menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila
manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka
mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya.
5). Moksa Tattwa – percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan
akhir manusia. Moksa merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat
tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat
lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material.
5. Hinduisme mengajarkan tiga jalan pembebasan yakni karma-marga, jnana dan bhakti.
Inti Ajaran Budha
Salah satu ciri khas agama Budha adalah pesimisme. Inti ajarannya ialah
bahwa segalanya adalah duka (sarvam dukham). Tapi bukan berarti ajaran Budhamengajarkan keputusasaan. Penderitaan karena samsara adalah suatu yang riil,oleh karena itu manusia harus melepaskan diri dari kesengsaraan (Bhikku Bodhi,2006: 22).
1. Budha mengajarkan empat kebenaran utama (empatar yas atyani), yaitu:
a. Hidup adalah sengsara (dukha)
b. Penderitaan itu timbul karena keinginan (samudaya). Keinginan mencoba
untuk meraih sesuatu yang diinginkan itu, seolah-olah keinginan itu bias
diraih. Namun ketika keinginan itu tidak dapat diraih maka kita akan
merasa sedih dan kecewa. Bukan dunia, tapi kita sendiri yang
menimbulkan penderitaan.
c. Penderitaan dapat diakhiri dan dicapai nirvana dimana segala kehidupan
berakhir. Nirvana bukan sorga, bukan pula keadaan kemana kita masuk.
Nirvana dicapai dengan menghentikan semua keinginan.
d. Hal ini hanya dapat terlaksana engan perbuatan-perbuatan dan disiplin
(marga), yang berpuncak pada konsentrasi dan meditasi.
2. Sementara itu terdapat tiga tingkat penderitaan dalam ajaran Budha, yaitu:
a. penderitaan yang berkaitan dengan proses kehidupan manusia (kelahiran,sakit, usia tua, mati).
b. penderitaan sebagai akibat dari kesadaran adanya kesenjangan dan distansi antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita peroleh, serta kesadaran akan kesementaraan.
c. penderitaan sebagai akibat dari hakekat kondisi kemanusiaan.

3. Titik awal ajaran Budha adalah pikiran yang belum tercerahkan, di dalam genggaman penderitaan, kesusahan, kesengsaraan, titik akhirnya adalah pikiran yang tercerahkan, bahagia, cemerlang, dan bebas.
4. Untuk mencapai tujuan akhir tadi terdapat beberapa jalan yang dikenal        dengan delapan jalan mulia.
1). Pandangan yang tepat tentang kebenaran-kebenaran mendasar tentang
kehidupan
2). Kehendak yang tepat untuk menjalani latihan
3). Ucapan benar
4). Perbuatan benar
5). Mata pencaharian benar
6). Daya upaya benar
7). Perhatian benar
8). Konsentrasi benar
DAFTAR PUSTAKA

Bodhi, Bhikku. (2006). Budha Dan Pesannya. Jakarta: Dian Dharma
Hadiwidjono, Harun. (2008). Agama Hindu dan Budha. Jakarta: Gunung Mulia.
Keene, Michael. (2006). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.
Khantipalo, Bhikkhu. (2008). Nasihat Praktis Bagi Mediotator. Yogyakarta:
KAMADHIS UGM
Mangunwijaya, Y. B. (1988). Wastu Citra. Jakarta : PT. Gramedia
Sastrapratedja, M. (1990). Filsafat Timur. Jakarta: STF Driyarkara
Suryada, Bagus dan Idedhyana, Bagus. (2009). “Serpihan Teori Arsitektur India Purba”. Jurnal Dinamika Kebudayaan. 21, (2), 73-82.
Su’ud Abu. (1988). Memahami Sejarah Bangsa-Bangsa Di Asia Selatan: Sejak Masa Purba Sampai Kedatangan Islam. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi.
Trisulowati dan Santoso. 2008. Pengaruh Religi Terhadap Perkembangan
Arsitektur, IndiaCina, dan Jepang.Yogyakarta : Graha Ilmu.
Weber, M. (1967). The Sociology Of Religion. Boston: Beacon Press.

Sumber Internet :
Waskito, Adi. (2010). Hindu Sebagai Landasan Budaya Bali.